Selasa, 08 Desember 2015

[Prakitkum beton pekan ke-5] Kelompok 3 - Uji Kuat Tekan Beton 28 hari - Larasita

Pada tanggal 3 Desember 2015, saya dan teman-teman saya melaksanakan praktikum ke-5 bahan bangunan laut. pada kali ini, kita akan menguji beton pada umur 28 hari.

1. Uji Kuat Tekan Beton
Tujuan dari percobaan ini adalah untuk menentukan kekuatan tekan beton berbentuk kubus dan silinder yang dibuat dan dirawat di laboratorium.

Prosedur Pengerjaan:
Sebelum di uji, satu hari sebelumnya, beton dikeluarkan dari bekisting dan dilapisi dengan oli.
1. ambil benda uji dari tempat perawatan
2. letakkan benda pada mesin tekan secara sentris
3. jalankan mesin uji tekan. tekanan harus dinaikkan berangsur-angsur dengan kecepatan antara 4kg/cm3 sampai 6 kg/cm3 perdetik.
4. lakukan pembebanan sampai benda hancur. dan catat uji benban maksimum hancur.

 

[Praktikum beton pekan ke-4] Kelompok 3 - Uji Kuat Tekan Beton 14 Hari - Larasita

Pada tanggal 19 November 2015, saya dan teman-teman saya melaksanakan praktikum ke-4 bahan bangunan laut. pada kali ini, kita akan menguji beton yang telah dibuat pada minggu kedua pada umur 14 hari.

1. Uji Kuat Tekan Beton
Tujuan dari percobaan ini adalah untuk menentukan kekuatan tekan beton berbentuk kubus dan silinder yang dibuat dan dirawat di laboratorium.

Prosedur Pengerjaan:
Sebelum di uji, satu hari sebelumnya, beton dikeluarkan dari bekisting dan dilapisi dengan oli.
1. ambil benda uji dari tempat perawatan
2. letakkan benda pada mesin tekan secara sentris
3. jalankan mesin uji tekan. tekanan harus dinaikkan berangsur-angsur dengan kecepatan antara 4kg/cm3 sampai 6 kg/cm3 perdetik.
4. lakukan pembebanan sampai benda hancur. dan catat uji benban maksimum hancur.
 
 
saya dan teman kelompok saya ada praktikum ke-4:
 


 

 


[Praktikum beton pekan ke-3] Kelompok 3 - Uji Kuat Tekan Beton 7 Hari dan Uji Kuat Tarik Baja - Larasita

Pada tanggal 12 November 2015, saya dan teman-teman saya melaksanakan praktikum ke-3 bahan bangunan laut. pada kali ini, kita akan menguji beton yang sudah kita buat minggu sebelumnya. Kali ini, kita juga akan menguji kuat tarik dari baja.

1. Uji Kuat Tekan Beton
Tujuan dari percobaan ini adalah untuk menentukan kekuatan tekan beton berbentuk kubus dan silinder yang dibuat dan dirawat di laboratorium.

Prosedur Pengerjaan:
Sebelum di uji, satu hari sebelumnya, beton dikeluarkan dari bekisting dan dilapisi dengan oli.
1. ambil benda uji dari tempat perawatan
2. letakkan benda pada mesin tekan secara sentris
3. jalankan mesin uji tekan. tekanan harus dinaikkan berangsur-angsur dengan kecepatan antara 4kg/cm3 sampai 6 kg/cm3 perdetik.
4. lakukan pembebanan sampai benda hancur. dan catat uji benban maksimum hancur.

 
 
2. Uji Kuat Tarik Baja

Tujuan percobaan:
- mengetahui cara pengukuran uji tarik langsung
- mengetahui cara pengoperasian alat uji tarik (UTM)
- menghitung nilai properti mekanik dari baja, seperti modulus Young, tegangan leleh, tegangan tarik, dll
- pembacaan tegangan dan regangan dengan menggunakan strain gauge

Prosedur percobaan:
1. Persiapan benda uji
- mengukur diameter dan panjang dari masing-masing baja

 
 2. Persiapan alat
- cek semua alat yang akan digunakan
-kalibrasikan alat

3. Pemasangan benda uji ke mesin UTM
4. Pelaksanaan pengujian
- tarik benda uji dengan pertambahan beban yang konstan sampai benda uji putus. catat dan amati besar perpanjangan yang terjadi setiap penambahan beban.
- setelah putus, ukur diameter penampang pada daerah putus dan ukur panjang akhir dan benda uji tersebut

[Praktikum beton pekan ke -2] Kelompok 3 – Rancangan Desain Beton - Larasita


PRAKTIKUM BAHAN BANGUNAN LAUT 2

Pada tanggal 5 November 2015, saya dan teman-teman saya akan praktikum bahan bangunan laut. Pada kali ini, kita akan melaksanankan praktikum mix design concrete. Dimana, disini kita akan membuat beton. Pada praktikum sebelumnya, kita telah mengetahui proporsi dari bahan-bahan yang akan digunakan untuk membuat beton. Lalu, sebelumnya kita juga telah melakukan perencangan design. Perancangan tersebut diidapat dari perhitungan berbagai kelompok. Jadi, praktikum ini akan dilaksanakan per kelompok besar. Adapun kelompok besar saya mendapat perancangan yang membuat beton dengan kekuatan 250.

-          Perancangan Mix Design: dari data yang didapat di praktikum sebelumnya, dapat dihitung rancangan design kita.
 

-          Setelah kita mengetahui rancangan design kita. Kelompok besar saya, membagi-bagi tugas. Ada yang mengambil air, mengambil semen, mengambil agregat halus dan kasar yang sebelumnya disaring terlebih dahulu.

 

-          Kebetulan, kelompok saya mendapat tugas untuk mengambil semen.

 

-          Setelah masing-masing kelompok kecil telah mengambil bahan-bahannya,kita akan mencampurkan seluruh bahan-bahan tersebut ke dalam mixer



-          Sebelumnya kita mengoleskan oli di bekisting terlebih dahulu.



Gbr.5 Bekisting yang telah diberi oli

-          Selanjutnya, seluruh bahan-bahan dimasukkan kedalam mixer dan dicampur.


 

Gbr.6 Proses mencampurkan seluruh bahan di mixer

-          Setelah seluruh bahan tercampur secara merata, kita akan mengadakan pengujian slump. Campuran beton tersebut dimasukkan kedalam tabung kerucut sebanyak 1/3 nya. Lalu, campuran beton dipukul sebanyak 25 kali. Setelah itu dimasukkan lagi 1/3 nya dan dipukul lagi sebanyak 25 kali. Kemudian, masukkan lagi campuran beton sebanyak 1/3 hingga penuh lalu ratakan.
 
 
Gbr.7 Proses pengujian Slump Test

-          Setelah campuran beton sudah terisi penuh, angkan tabung kerucut tersebut, dan ukur slump yang dihasilkan berapa.

  
Gbr.8 Hasil Slump

-          Karena ukuran slump yang dihasilkann sesuai dan memenuhi standar, maka campuran beton berhasil dan dapat dimasukkan kedalam bekisting.

[Praktikum beton pekan ke -1] Kelompok 3 - Agregat - Larasita


[Praktikum Beton Pekan ke-1] Kelompok 3 – Agregat - Larasita

Pada tanggal 29 Oktober 2015, saya dan teman-teman saya melaksanakan praktikum bahan bangunan laut yang pertama. Pada kali ini, kita akan melaksanakan praktikum agregat yang terdiri dari beberapa bagian lagi yaitu: pemeriksaan berat volume agregat, analisis saringan halus agregat kasar dan halus, pemeriksaan zat organik dalam agregat halus, pemeriksaan kadar lumpur dalam agregat halus, pemeriksaan kadar air agregat, analisis spesific gravity agregat halus dan agregat kasar.

1.       Pemeriksaan berat volume agregat

Tujuan dari percobaan ini adalah untuk menentukan berat volume agregat kasar maupun halus.

 

Prosedur percobaan:

Pertama, masukkan agregat ke dalam talam sekurang-kurangnya sebanyak kapasitas wadah. Lalu, keringkan dengan oven, suhu pada oven (110±5)˚C sampai berat menjadi tetap untuk digunakan sebagai benda uji. Hitung berat pada keesokan harinya.
 

 

2.       Analisis Saringan Agregat Halus

Tujuan dari percobaan ini adalah untuk menentukan gradasi agregat halus.
 

Prosedur percobaan:
Saringan agregat halus dengan menggunakan beberapa saringan yang telah ditentukan. Lalu timbang berat agregat berdasarkan saringannya masing-masing.

 


3.       Analisis Saringan Agregat Kasar

Tujuan dari percobaan ini adalah untuk menentukan gradasi agregat kasar.


Prosedur percobaan:

Saringan agregat halus dengan menggunakan beberapa saringan yang telah ditentukan. Lalu timbang berat agregat berdasarkan saringannya masing-masing.

 


4.       Pemeriksaan zat organik dalam agregat halus

Tujuan percobaan ini adalah untuk menentukan adanya bahan organik dalam agregat halus yang akan digunakan pada campuran beton.

 
Prosedur percobaan:
Masukkan pasir ke dalam botol, lalu tambah larutan NaoH 3%, kemudia kocok hingga isinya mencapai kira-kira ¾ volume botol. Bandingkan warna cairan dengan organik plate.

 


5.       Pemeriksaan kadar lumpur dalam agregat halus

Tujuan percobaan ini adalah menentukan besarnya persentase kadar lumpur dalam agregat halus yang digunakan sebagai campuran beton.
 

Prosedur percobaan:

Masukkan lumpur ke dalam gelas ukur dan larutkan dengan air. Kemudia kocok agar pasir tercuci dari lumpur. Ukur tinggi pasir dan tinggi lumpur.

 


6.       Pemeriksaan kadar air agregat

Tujuan percobaan ini adalah untuk menentukan besarnya kadar air yang terkandung dalam agregat dengan cara pengeringan.

 

Prosedur percobaan:

1.       Talam ditimbang dan dicatat beratnya (W1)

2.       Benda uji dimasukkan ke dalam talam, kemudian berat talam ditambah benda uji ditimbang. Berat dicatat sebagai W2.

3.       Berat benda uji dihitung dengan persamaan W3=W2-W1

4.       Contoh benda uji dikeringkan bersama talam dalam oven pada suhu (110 ± 5)oC hingga beratnya tetap

5.       Setelah kering contoh ditimbang dan dicatat berat benda uji beserta talam (W4)

6.       Berat benda uji kering dihitung dengan persamaan W5=W4­­- W1

 

7.       Analisis spesific gravity agregat halus

Tujuan percobaan: untuk menentukan bulk and apparent Specific Gravity dan penyerapan (absorpsi) agregat halus menurut prosedur ASTM C128.

 


Prosedur:

Pada percobaan kali ini, percobaan dilakukan oleh mekanik yang ada di lab.


1.       Agregat halus yang jenuh air dikeringkan sampai diperoleh kondisi kering dengan indikasi contoh tercurah dengan baik.

2.       Sebagian dari contoh dimasukkan ke dalam cetakan kerucut pasir (metal sand cone mold). Benda uji lalu dipadatkan dengan tongkat pemadat (tamper) dengan jumlah tumbukan sebanyak 25 kali setiap satu dari tiga bagian yang terisi. Kondisi SSD diperoleh ketika butir-butir pasir longsor/runtuh ketika cetakan tersebut diangkat.

3.       Contoh agregat halus sebesar 500 gram dimasukkan ke dalam piknometer. Kemudian piknometer diisi dengan air sampai 90% penuh. Bebaskan gelembung-gelembung udara dengan cara menggoyang- goyangkan piknometer. Rendamlah piknometer dengan suhu air 73,43o F selama 24 jam. Timbang berat piknometer yang berisi contoh dengan air.

4.       Pisahkan benda uji dari piknometer dan keringkan pada suhu 213,130F. Langkah ini harus diselesaikan dalam waktu 24 jam.

5.       Timbanglah berat piknometer yang berisi air sesuai dengan kapasitas kalibrasi pada temperatur 73,43o F dengan ketelitian 0,1 gram.

 

8.       Analisis spesific gravity agregat kasar

Tujuan percobaan ini adalah menentukan bulk dan apparent specific grafity dan penyerapan/absorbsi dari agregat kasar menurut ASTM C 127.

 

Prosedur percobaan:

Benda uji telah direndam selama 24 jam. Lalu benda dikeringkan permukaannya dengan menggulungkan handuk pada butiran, lalu hidtung berat kondisi SSD. Benda uji dimasukkan kekeranjang dan direndam kembali didalam air dan kemudian ditimbang, setelah keranjang digoyang-goyangkan didalam air untuk melepaskan udara yang terperangkap. Hitung berat contoh kondisi jenuh.

 
Itulah apa saja yang saya dan teman-teman saya lakukan di praktikum Bahan Bangunan Laut yang pertama.

 

 

 

Sabtu, 07 November 2015

Material Konstruksi di Miss Bee Providore


Nama Bangunan: Miss Bee Providore
 

Miss Bee Providore merupakan salah satu cafe di Bandung. Miss Bee terletak di jalan Rancabentang No. 11 A Ciumbuleuit, Bandung. Cafe ini terdiri dari dua bangunan, yaitu bangunan rumah biasa dan rumah kaca. Namun, saya tertarik dengan rumah kacanya. Disini, saya akan menjelaskan mengenai material konstruksi dari rumah kaca yang terdapat di Miss Bee.

 

Identifikasi Material:

Rumah kaca yang terdapat di Miss Bee ini menggunakan material kaca sebagai material utamanya. Selain itu, baja ringan juga menjadi material dari rumah kaca tersebut.

Proporsinya:

Kaca: 80%

Baja ringan: 12%
Beton: 6%
WPC: 2%
 

Teknologi/ Cara Membuat Material dari Rumah Kaca pada Miss Bee:

·         Kaca

Bahan Baku Industri Kaca:

Bahan baku dari industri umum kaca adalah (Austin, dkk. 2005) :

·      Pasir

Pasir yang digunakan dalam membuat kaca adalah kuarsa yang sangat murni. Kandungan besi dalam pasir kuarsa ini tidak boleh melebihi 0,45% untuk barang gelas pecah belah atau 0,015% untuk kaca optik, sebab kandungan besi ini bersifat merupakan warna kaca pada umumnya.

Proses Pembuatan WPC


Bahan inti untuk membuat produk WPC adalah plastik dan kayu. Bahan pertama adalah plastik. Bahan utama plastic ada dua yaitu bijih pvc murni, produk sampingan dari pemurnian minyak dan gas alam, dan polietilen yang didapat dari daur ulang plastik pada hampir semua produk yaitu plastik pembungkus, tas belanja plastik, soda botol, bahkan film plastic yang ada pada permukaan styrofoam dan digunakan untuk menanamkan  iklan. Plastik daur ulang ini dibersihkan dan diolah menjadi butiran bijih plastik. Selain itu, plastik didapat dari bahan plastik yang ditolak perusahaan.

Kayu adalah komponen utama selain plastic dari WPC. Kayu tersebut sebelumnya diproses agar berbentuk tepung atau bijih-bijih kayu kecil. Secara teknis, semua jenis kayu dapat digunakan untuk membuat WPC, tetapi lebih baik digunakan kayu dari pohon yang berbatang keras dari pada kayu dari pohon berbatang lunak. Biasanya perusahaan menyuplai serbuk kayu dari sisa pemotongan kayu di pabrik pembuatan lantai kayu atau pembuat furniture kayu. Sangat jarang ditemukan perusahaan mengambil langsung kayu dari hutan. Hal ini disebabkan karena perusahaan menggunakan jenis kayu yang sesuai dengan karakteristik yang diinginkan dan kayu dipanen pada waktu yang berbeda. Hal ini menyebabkan perusahaan harus melakukan uji material yang tidak efisien yaitu setiap proses pembuatan dimulai.

Wood Plastic Composite


Pengertian Wood Plastic Composite

Wood Plastic Composite , atau yang sering disebut WPC, secara bahasa dapat diartikan sebagai komposit kayu-plastik. Komposit bisa diartikan sebagai campuran, sehingga dapat dikatakan bahwa WPC adalah campuran antara kayu dan plastik. Sebuah material baru yang tersusun dari elemen kayu dan plastik yang dilebur menjadi satu dan membentuk sebuah material baru, yaitu WPC. WPC adalah alternatif  pengganti kayu masa kini, inovasi terbaru teknologi Jepang karena harga kayu semakin meningkat dan dunia harus menjaga penggunaan kayu.

WPC merupakan gabungan antara serat selulosa alam seperti serat atau serbuk kayu, sekam padi, batang tebu dan polimer atau plastik (vinyl) baik yang masih orsinil ataupun daur ulang. Dengan komposisi serat plastik 50% dan serbuk kayu 50%, WPC memberikan kekuatan dan keindahan menyerupai kayu dengan daya tahan dan kelebihan serta keunggulan polimer atau plastik.

WPC terbuat dari kayu-plastik dan dicampur dengan bahan-bahan seperti:

-          Anti UV        : membuat produk tahan terhadap panas matahari dan api.

-          Anti jamur    : membuat produk tahan jamur atau lumut jika terjadi lembab pada saat terkena air dan hujan.

-          Anti rayap    : membuat produk tahan terhadap serangan serangga, sehingga tidak keropos.

Perlindungan dan Pencegahan Korosi pada Baja Tulangan


Perlindungan Selimut Beton dan Mekanisme Korosi pada Baja Tulangan

Selimut beton merupakan komposit dari semen portland (campuran kalsium silikat dan kalsium aluminat), pasir, dan campuran-campuran lainnya. Selimut beton berfungsi seperti lapisan coating yang memberikan proteksi yang sangat baik pada baja tulangan. Selain itu, campuran semen portland dengan air akan menghasilkan kalsium silikat hidrat dan kalsium hidroksida yang bersifat basa dengan pH berkisar antara 13-13,5. Kondisi pori beton yang bersifat basa ini akan membuat baja dalam kondisi pasif (terbentuk lapisan pasif yang protektif) dan tidak terkorosi.
Ketahanan terhadap korosi yang dihasilkan selimut beton akan tetap terjaga selama selimut beton dapat menahan masuknya udara dan air. Apabila selimut beton terlalu tipis atau terlalu berpori, kerusakan akibat korosi akan terjadi karena penetrasi air yang mengandung oksigen terlarut melalui pori beton. Masuknya oksigen terlarut ini akan memicu terjadinya rangkaian sel elektrokimia yang menyebabkan terjadinya korosi.

Klorida terlarut merupakan penyebab utama terjadinya korosi dalam selimut beton. Ion klorida dapat berasal dari penetrasi air laut, atau dapat juga berasal dari air dan pasir yang digunakan dalam campuran selimut beton. Adanya ion klorida yang bersifat agresif akan membentuk senyawa asam dan bereaksi dengan selaput pasif yang bersifat basa, sehingga selaput pasif akan rusak dan baja tulangan akan terkorosi. Korosi akibat penetrasi ion klorida umumnya terjadi secara setempat (pitting corrosion)

Serangan Kimia dan Mikrobiologis pada Beton


Serangan Kimia pada Beton

a. Serangan Sulfat

Unsur yang berperan:

-        Mg SO4 : dari air laut/tanah

-        Ca(OH)2 : hasil sampingan reaksi hidrasi beton/semen

-        C3A : salah satu senyawa kimia dalam semen portland

Bentuk-bentuk reaksi:

Pertukaran ion Ca2+ dengan Mg2+

Pencegahan:

Mengikat Ca(OH)2 dengan menggunakan supplementary cementing materials seperti flyash, silica fume dan slag mengurangi kandungan Ca(OH)2 dengan menggunakan semen tipe II dan V mengurangi kandungan C3A pada semen (semen tipe II dan V) meningkat tingkat kekedapan beton (rasio w/c yang rendah).

Type Pozolan, ada beberapa kelebihan. Selama ini, semen jenis Portland sudah dikenal dengan baik, yaitu jenis semen yang dihasilkan dengan cara menggiling terak semen Portland terutama yang terdiri atas kalsium silikat yang bersifat hidrolis dan digiling bersama-sama dengan bahan tambahan berupa satu atau lebih bentuk kristal senyawa kalsium sulfat dan boleh ditambah bahan tambahan lain. Sedangkan semen jenis Pozolan (Portland Pozolan) yaitu jenis bahan pengikat hidrolis dihasilkan dengan cara menggiling bersama sama terak semen Portland dan bahan yang mempunyai sifat pozolan, atau mencampur secara merata bubuk semen Portland dan bubuk bahan yang mempunyai sifat pozolan dan boleh di tambahkan bahan-bahan lain asal tidak mengakibatkan penurunan kualitas.

Definisi Pozolan menurut ASTM C 618-96 adalah bahan yang mengandung senyawa silika atau silika dan alumina, di mana walaupun Pozolan tidak punya sifat sementasi, tetapi dengan bentuknya yang halus, dengan adanya air maka akan terjadi, bereakasi secara kimia dengan kalsium hidroksida pada suhu biasa, membentuk senyawa yang memiliki sifat-sifat seperti semen (kalsium silikat dan kalsium aluminat hidrat).

Dibandingkan dengan sifat fisika semen Portland maka kekuatan awal semen Portland Pozolan agak lebih rendah akan tetapi pada perkembangan reaksi berikutnya, akan terjadi dua reaksi yang bersamaan yaitu reaksi antara Portland cement dengan air dan reaksi antara silika aktif (amorf) dengan Ca (OH)2 dan air sehingga kekuatan Portland Pozolan semakin lama menjadi semakin tinggi.

Seputar perbedaan aktivitas peningkatan resistensi SBC terhadap serangan air laut dan sulfat baik pada SBC maupun semen Portland Cement type II maupun type V dapat dijelaskan sebagai berikut:

Eliminasi pembentukan enttringite dengan menurunkan C3A (3CaO .Al2O3).Pada semen Portland Type II dan Type V, C3A diturunkan berturut-turut maksimum 8% dan 5% sedangkan pada SBC tergantung pada Silica Amorf yang ditambahkan, makin besar Silica Amorf yang ditambahkan C3A makin kecil dan enttringite makin sedikit.

Menurunkan pembentukan enttringite dengan mengeliminasi Ca (OH)2 dari hasil reaksi C3S (3CaO.SIO2) dan C2S (2CaO.SIO2) dengan air.Pada semen Portland type II dan type V tidak bisa mengeliminasi Ca(OH)2 sedangkan pada SBC terjadi pengeliminasian Ca(OH)2 yaitu dengan jalan pengikatan Ca(OH)2 oleh Silica Amorf membentuk CSH ( semen gel ) baru.

Meningkatkan kekedapan melalui pembentukan CSH (semen gel) baru. Pada semen Portland type II dan V tidak ada pembentukan CSH (semen gel) baru, sedangkan pada SBC ada peningkatan kekedapan dengan terbentuknya CSH baru: SIO2+Ca(OH)2+H2 ==> CSH

b. Aksi Klorida

Bentuk reaksi:

Pertukaran ion Ca2+ dengan Mg2+

Hasil reaksi klorida berupa kalsium klorida yang dapat larut dalam air laut sehingga dapat mengarah pada penyusutan material : melemahkan beton.

Pencegahan:

-        mengikat Ca(OH)2

-        mengurangi kandungan Ca(OH)2

-        meningkatkan tingkat kekedapan beton